Minggu, 19 Februari 2012

Perjalan Paguyuban SRI di Ngawi

0

Hasil produksi pertanian, khususnya pertanian padi dari tahun ke tahun mengalami penurunan, sementara  itu sebaliknya biaya produksi dari tahun ke tahun semakin tinggi. Beberapa teknologi pertanian sudah berusaha diterapkan, baik oleh Dinas Pertanian Kab. Ngawi maupun yang diterapkan langsung oleh petani, bahkan pengembangan tanam benih hibrida pun menjadi tren saat ini, kebanyakan itu semua mereka lakukan hanya dengan satu tujuan untuk meningkatkan hasil produksi pertanian. Jarang atau boleh dikatakan tidak pernah mereka berfikir bagaimana efek dari semua teknologi yang mereka pergunakan tersebut, utamanya penggunaan pupuk/pestisida kimia terhadap dirinya maupun hasil dari pertanian mereka.
Dengan revolusi hijau yang pernah dilakukan pemerintah, sekitar tahun 1980-an kita penah mengalami swasembada beras secara nasional. Penggunaan pupuk kimia yang pada tahun 1970 masih sangat sedikit volumenya, semenjak tahun 1980an mengalami kenaikan rata-rata 250 Kg/Ha, tahun 1990 menjadi 350 Kg/Ha dan  tahun 2000-an penggunaannya rata-rata 700 Kg/Ha. Melihat peningkatan volume penggunaan pupuk seperti ini, tidak menutup kemungkinan volume akan semakin bertambah untuk tahun-tahun mendatang.
Hal tersebut masih di barengi dengan penggunaan pestisida kimia yang juga dari waktu ke waktu semakin bervariasi bahkan tidak jarang dalam satu kali penyemprotan 3-4 jenis pestisida dioplos menjadi satu, karena ada keyakinan jika jumlah pupuk kimia dan variasi pestisidanya banyak, hasilnya pun akan meningkat.
Dengan perlakuan petani seperti digambarkan di atas, maka kondisi lahan pertanian saat ini pun mengalami penurunan kualitas kesuburan tanah, baik struktur dan teksturnya. Tanah semakin miskin unsur hara, lebih keras, tidak dapat mengikat air dan sebagainya. Belum lagi adanya peledakan hama yang disebabkan oleh semakin resistennya hama tersebut akibat pemakaian pestisida kimia yang berlebihan.
Alih-alih produksi pertanian meningkat, malah sebaliknya yang terjadi saat ini produksi pertanian cenderung menurun (stagnan), sementara kebutuhan pupuk kimia semakin meningkat, belum lagi faktor kelangkaan pupuk, perubahan musim yang ekstrim, dimana musim hujan saat ini tidak ubahnya seperti musim kemarau, sementara musim kemarau sangat-sangat panas sekali, persediaan air yang sangat terbatas, dan masih banyak lagi persoalan yang harus dihadapi oleh pelaku usaha tani lebih khusus lagi para petani kita.
Melihat kondisi seperti itu, pada tanggal 1 Oktober 2006, bertempat di Dusun Crawuk, Desa Sidomakmur, Kecamatan Widodaren Kabupaten Ngawi dibentuklah PAGUYUBAN SRI NGAWI, yaitu tempat belajarnya para petani yang sadar akan bahayanya penggunaan pupuk/pestisida kimia, sekaligus memperkenalkan sistem baru untuk pertanian khususnya pertanian padi yang disebut SRI (System of Rice Intensification) yang telah dikembangkan sejak akhir tahun 2003. Paguyuban ini menitikberatkan pada pertanian yang ramah lingkungan dan berkelanjutan, yakni cara bertani yang tetap memperhatikan agroekosistem secara holistik dengan penggunaan pupuk organik dan biopestisida yang semuanya itu telah tersedia di lingkungan sekitar kita yang memang diciptakan Tuhan untuk dipergunakan oleh kita semua, serta penggunaan sistem baru SRI (System of Rice Intensification) dalam pola bercocok tanam.

0 komentar:

Posting Komentar

Selamat datang di Komunitas budidaya Padi dengan metode SRI (System rice of Intensification)