TANAM SRI

5


BAGAIMANA PROSES MENANAM PADI CARA SRI ?
 

a. Pengolahan Tanah dan Pemupukan
Untuk mendapatkan media tumbuh yang baik maka lahan dioalah seperti tanam biasa (dibajak, digaru kemudian diratakan), tetapi pada saat digaru (pengolahan tanah kedua) dilakukan penaburan pupuk organik. Pupuk organik sebelumnya dikomposkan terlebih dahulu, sehingga kita bisa mendapatkan kompos yang Lapuk dan Jadi, hal ini bertujuan untuk memberikan kesempatan bagi mikroorganisme dalam tanah berkembang dengan baik.
Komposisi bahan kompos yang cukup baik adalah :
1.Kotoran sapi (yang bercampur dengan kencingnya akan lebih baik, minimal 40 %
2.Kotoran ayam maksimum 25 %
3.Serbuk gergaji bukan dari kayu jati dan pohon kelapa sebanyak 5 %
4.Abu dapur sebanyak 10 %
5.Kapur (Calsit) 2 %
6.Bio Lahang
Kebutuhan pupuk organik per hektar antara 7-10 ton, saat penaburan pupuk organik dan meratakan tanah air dijaga agar tidak mengalir supaya nutrisi tidak hanyut. Selanjutnya di pinggir dan ditengah petakan dibuat parit agar mudah mengutur air. Setelah tanah diratakan air dijaga tetap macak-macak,jangan sampai kering, baik jika dilakukan selama 3-4 hari sebelum ditanami, hal ini juga akan mempermudah pembuatan garitan.

b. Menyiapkan benih yang bermutu
Menyiapkan benih yang bermutu, anggota KSP melakukan kegiatan ini pada benih yang dihasilkan secara tradisional maupun benih yang diproduksi oleh pengusaha (benih berlabel). Dengan seleksi air garam, langkah-langkah kegiatan adalah sebagai berikut:
 
1.prosesnya : Masukan air dalam Keler atau Toples (yang dianggap cukup untuk menyeleksi benih yang akan ditanam atau dapat dilakukan berulang kali)., selanjutnya masukan telur Ayam atau Itik kedalam larutan air garam, sampai telur ngambang di atas permukaan air,   Pisahkan benih yang ngambang dengan yang tenggelam, lama waktu perendaman benih hanya sesaat saja untuk memisahkan benih yang hampa dan setengah bernas, kemudian benih yang tenggelam dicuci, hingga bersih, dan siap untuk disemai

2. Kebutuhan benih, Kebutuhan benih untuk tanaman padi cara SRI adalah untuk 100 bata (0,14 Ha) adalah 0,7 – 1 Kg, sedangkan kebutuhan per Ha adalah 4,9 – 7 Kg per Ha. Bila dibanding dengan cara tanam biasa rata-rata kebutuhan benih per Ha adalah 35 – 45 Kg, bahkan ada yang mencapai 50 – 60 Kg, dengan demikian SRI sangat efisien.

c. Membuat persemaian
Persemaian untuk SRI dapat dilalukan dengan media Pipiti (Besek) atau kotak hal ini memudahkan untuk pengamatan dan seleksi benih dapat dilakukan dengan mudah. Kebutuhan Pipiti adalah 60-70 buah ukuran 20x20 Cm, kebutuhan pipiti/ besek per 0,14 Ha (420-490 buah per Ha). Tanah dalam pipiti sebagai media tumbuh benih dicampur dengan pupuk organik dengan perbandingan 1 : 1.

Cara membuat persemaian dapat dilakukan dengan tahapan sebagai berikut :
1) Mencampur tanah dengan pupuk organik
2) Sebelum Pipiti/Besek diisi dengan tanah terlebih dahulu dilapisi “Daun Pisang” yang sudah dilemaskan, kemudian diisi dengan tanah yang sudah dicampur pupuk organik sebanyak tiga per empatnya, kemudian disiram dengan air sehingga tanah dalam Pipiti/Besek menjadi lembab.
3) Penaburan benih, jumlah benih per Pipiti/Besek antara 300 – 350 biji, setelah itu ditutup dengan tanah yang sudah dicampur pupuk organik (lapisan tanah penutup diupayakan tipis) kemudian dibibis lagi., selanjutnya persemaian dapat disimpan di pekarangan, hari pertama dan ke dua persemaian ditutup agar tidak kepanasan atau dapat disimpanditempat yang teduh, jika disimpan di pekarangan diupayakan diletakan pada tempat yang aman dari gangguan Ayam, dll. Pemberian air dapat dilakukan setiap hari agar media tetap lembab dan tanaman tetap segar. Persemaian dapat disimpan di halaman rumah.

d. Tanam
Benih ditanam pada umur 7-10 Hari setelah semai. jumlah benih per lubangnya hanya satu (tanam tunggal) dan dangkal 1 - 1,5 Cm, kondisi air saat tanam macak-macak. Dasar pemikirannya adalah ketika benih ditanam bareng maka akan bersaing satu sama lain dalam hal, nutrisi, oxygen dan sinar matahari. Benih ditanam dangkal dan perakaran horizontal seperti hurup L, hal ini dilakukan jika akar tertekuk keatas maka benih memerlukan energi besar dalam memulai pertumbuhan kembali, dan akar baru akan tumbuh dari ujung tersebut.

Jarak tanam berdasar pengalaman KSP SRI baik jika ditanam dengan jarak tanam lebar, antara lain 25 x 25 Cm, 27 x 27 Cm atau 30 x 30 Cm. Semakin lebar jarak tanam semakin meningkatkan jumlah anakan produktif, karena persaingan oxygen, energi matahari dan nutrisi semakin berkurang.

Pemupukan dan Pemeliharaan
Pupuk tambahan untuk SRI, dari kajian yang dilakukan di jaringang IPPHTI tanam padi metode SRI hanya dipupuk dengan pupuk organik, seperti diungkapkan diatas, diberikan pada pengolahan tanah ke dua, selanjutnya pupuk tambahan hanya diberikan dengan menyemprotkan Pupuk Organik Cair. Pupuk tersebut terbuat dari permentasi sisa makan (Juice sari hewani), Juice Tunas, Juice Buah-buahan dan permentasi kotoran hewan. Seluruh pupuk cair tersebut dapat dibuat dengan mudah petani dari bahan-bahan yang tersedia disekitar tempat tinggal petani Penyemprotan dilakukan pada tanaman berumur 2 Minggu, 4 Minggu, 6 Minggu, 8 Minggu dan setelah pembungaan masak susu.
Pola SRI yang kami kembangkan tidak menggunakan pupuk an-organik seperti Urea, TSP dan KCL maupun pupuk an-organik lainnya, juga dalam Dengan demikian seluruh proses pengelolaannya adalah dengan cara pertanian ramah lingkungan menurut konsep Pengendalian Hama Terpadu. Dalam prakteknya cara tersebut adalah melalui pendekatan pengelolaan unsur agro-ekosistem. Untuk mengelola proses tersebut maka kemampuan petani dalam pengamatan sangat diperlukan, agar petani mampu mengambil keputusan pengelolaan yang tepat.

e. Pengelolaan Air dan Penyiangan,
Tanaman padi sawah berdasar praktek SRI ternyata bukan tanaman air tetapi dalam pertumbuhannya membutuhkan air, dengan demikian maka SRI ditanam pada kondisi tanah yang tidak tergenang, dengan tujuan menyediakan oxygen lebih banyak di dalam tanah, kemudian dimanfaatkan oleh akar. Dengan keadaan tidak tergenang akar akan tumbuh dengan subur dan besar. Maka tanaman dapat menyerap nutrisi sebanyak-banyaknya. Oleh karena itu proses pengelolaan air dan dan penyiangan dilakukan sebagai berikut :umur padi 1-8 hst. keadaan air macak-macak kemudian umur 9-10 hari digenang 2-3 Cm ini untuk memudahkan melakukan penyiangan, setelah disiang tanaman dikeringkan sampai umur 18 hari, 19 -20 tanaman digenang, ini untuk memudahkan penyiangan ke II, selanjutnya pengeringan, pengairan kembali dan penyiangan dilakukan dengan interpal yang sama, sampai tanaman berbunga. Pada saat tanaman berbunga tanaman diairi dan setelah padi masak susu tanaman dikeringkan kembali sampai menjelang panen.

f. Pengendalian Hama dan Penyakit Tanaman
Pengendalian hama dilakukan dengan PHT, yaitu dengan menggelola unsur agro-ekosistem sebagai alat pengendali hama dan penyakit tanaman. Pada prinsipnya pengelolaan potensi usaha tani. Dalam kaitannya dengan pengelolaan potensi usaha tani proses belajar diarahkan pada bagaimana petani mampu mengelola unsur agro-ekosistem sebai sebuah potensi yang dapat dikembangkan, contoh kemampuan petani dalam pengelolaan unsur agroekosistem sebagai praktek pertanian yang ramah lingkungan.

g. Produksi
Produksi padi dengan cara SRI ini berdasar hasil kajian di KSP/ Jaringan IPPHTI mencapai 7,36 sampai 12,6 ton per hektar, hal ini didukung oleh jumlah tunas produktif perumpun paling rendah 33, pertenganhan 45 dan jumlah tunas tertinggi per rumpun 72 tunas bahkan ada yang mencapai 92 tunas produktif.

5 komentar:

Poskan Komentar

Selamat datang di Komunitas budidaya Padi dengan metode SRI (System rice of Intensification)